Hiburan
25 Maret 2022Kecintaan Jepang pada konten tanpa naskah dimulai pada tahun 1950-an dan tetap menjadi salah satu bentuk hiburan yang paling dominan di negara ini. Dari acara komedi hingga acara kompetisi, program-program variety santai Jepang menawarkan jenis hiburan yang menenangkan dan diharapkan oleh masyarakat dari televisi, sedangkan reality show memanfaatkan antusiasme luar biasa tentang hidup lewat petualangan dunia nyata yang dijalani para pemeran di layar.
Reality show seperti Ainori dan Terrace House sebenarnya merupakan sebagian acara pertama yang benar-benar sesuai dengan penonton Jepang, dan kesuksesan kami baru-baru ini lewat acara tanpa naskah membuktikan bahwa selera semacam ini masih berkembang, dengan serial komedi tanpa naskah terbaru kami, Last One Standing, yang langsung naik ke posisi 1 dalam 10 Teratas Umum (Jepang) usai penayangan perdananya.
Saat ini kami tengah mengembangkan 15 proyek tanpa naskah, tujuh di antaranya sudah tayang atau akan diluncurkan tahun ini. Deretan acara baru ini meliputi berbagai genre tanpa naskah, dari komedi, reality televisi, hingga dokumenter.
Penggemar acara kencan dapat menantikan Love Village serta season baru The Future Diary, sedangkan Love is Blind: Japan kini tengah mencari pemeran untuk season kedua, yang dijadwalkan akan tayang tahun depan. Kami juga akan meluncurkan banyak acara dokumenter mulai dari LiSA Another Great Day, yang merayakan karier seniman ternama ini sebagai salah satu penyanyi teratas lagu-lagu tema anime yang sangat populer, dan Sing, Dance, Act: Kabuki, menampilkan mantan idola yang menjadi aktor, Toma Ikuta, yang masuk ke dalam dunia New Kabuki, hingga Tokyo Crime Squad: The Lucie Blackman Case (judul sementara).
Cerita-cerita yang berkelana
Sebagai studio global, kami mencoba menghibur penonton lokal dan global. Acara-acara tanpa naskah memungkinkan kami melakukan keduanya dengan cara-cara yang menarik. Prioritas kami untuk setiap acara bahasa lokal adalah memastikan acara itu sesuai dengan penonton lokal yang bersangkutan, dan jika kami mempertahankan setiap budaya dan menjadikannya seautentik mungkin, acara tersebut cenderung menggunakan sesuatu yang universal.
Ketika kami membawa Love is Blind ke Jepang, fokus kami adalah tidak memaksa para peserta melakukan apa pun yang mereka rasa tidak nyaman dari segi budaya. Jika mereka ingin memberi salam dengan membungkuk alih-alih berciuman ketika pertama kali bertemu, atau jika mereka tidak siap membicarakan topik-topik intim, itu tidak apa-apa. Jika mereka ingin memutuskan hubungan sebelum hari pernikahan, itu tidak apa-apa. Sebagai gantinya, Anda melihat para peserta menjadi diri mereka sendiri, dan ini akhirnya membuat mereka mudah dipahami dan mengagumkan karena perbedaan budaya mereka.
Konsep sederhana tetapi provokatif dalam format inilah yang menghasilkan adaptasi semacam ini, dan meskipun Love is Blind berasal dari Amerika, format-format ini bisa berasal dari mana saja di dunia. Misalnya, Iron Chef merupakan acara terobosan di Jepang sebelum diadaptasi secara internasional dan kini digarap ulang sebagai serial Netflix.
Namun turut serta dalam acara tanpa naskah bisa menimbulkan stres, khususnya partisipasi dalam acara kencan yang mengharuskan mereka yang di depan kamera siap menghadapi gejolak, dan ini memerlukan kekuatan mental yang tangguh, khususnya di era media sosial saat ini.
Untuk memastikan para pemeran dan kru sudah siap menjalani hal ini, kami melakukan proses pemeriksaan ketat sepanjang proses produksi dan menempatkan sistem dukungan bagi mereka. Memprioritaskan kesehatan mental mereka juga berarti menghormati keputusan mereka tentang apa yang menurut mereka nyaman dilakukan di depan kamera.
Selanjutnya, kami akan terus mempertahankan standar tinggi saat memproduksi konten tanpa naskah di Jepang. Kami yakin bahwa hal ini bisa dilakukan untuk menciptakan program yang dapat dinikmati dan autentik sambil mengutamakan kesejahteraan para pemeran kami.
Silakan klik di sini untuk detail selengkapnya tentang judul-judul tanpa naskah yang akan datang.
